dia terserat oleh sesuatu yang gelap, seperti lubang, menelannya ke tempat yang tak pernah dikunjunginya. tubuhnya terhempas ke tanah, membuatnya sadar "dimanakah tubuh ini telah dilemparkan". di kota ini akan diceritakan tentang sebuah hal.
suasana kota kini menjadi lebih diam, tenang, sesekali sepi seperti tak berpenghuni. dia berjalan melewati kota itu sendirian, heran. kota yang kecil dan bersejarah tapi orang-orang hilang entah kemana. ada beberapa orang yang masih terlihat di kota tapi mereka hanya diam jarang ada omongan, bisa dibilang tidak pernah ada omongan. sesekali orang-orang itu melihat dengan pandangan tajam kepada orang yang baru datang ke kota ini.
pemuda itu terheran-heran seperti ada misteri disembunyikan ditancapkan dalam-dalam ke dasar bumi agar tidak naik ke permukaan. dia masih berjalan memperhatikan bangunan-bangunan tua bekas penjajahan, jalanan yang lunglang, pohon-pohon yang besar, angin yang tidak melalu lalang.
Di gang gelap tak bercahaya, dinding dinding tinggi menjulang, cahaya matahari yang tak sampai akibat terhalang gedung-gedung tinggi, pemuda itu bertemu kakek tua yang sudah tidak mempunyai tenaga, menunggu malaikat maut untu menemuinya. "kesinilah kau nak" kata kakek itu mendesih lirih, pemuda itu mendekati dengan hati-hati, berjalan dengan langkah langkah seperti seorang agen negara itali. "tak usah takut, aku tau kau bukan penduduk sini" kata kakek itu meyakinkan. pemuda itu terheran, setelah merasa yakin pemuda itu lalu duduk didepan kakek tua dengan memegang kedua lutut yang dinaikkan sampai ke dagunya.
Kakek itu bercerita dengan tenaga yang tersisa.
Di gang gelap tak bercahaya, dinding dinding tinggi menjulang, cahaya matahari yang tak sampai akibat terhalang gedung-gedung tinggi, pemuda itu bertemu kakek tua yang sudah tidak mempunyai tenaga, menunggu malaikat maut untu menemuinya. "kesinilah kau nak" kata kakek itu mendesih lirih, pemuda itu mendekati dengan hati-hati, berjalan dengan langkah langkah seperti seorang agen negara itali. "tak usah takut, aku tau kau bukan penduduk sini" kata kakek itu meyakinkan. pemuda itu terheran, setelah merasa yakin pemuda itu lalu duduk didepan kakek tua dengan memegang kedua lutut yang dinaikkan sampai ke dagunya.
Kakek itu bercerita dengan tenaga yang tersisa.
kota ini dulu sangat damai sampai-sampai tidak ada suara-suara apalagi isak tangis. mereka jarang sekali mendengar sebab tidak pernah terjadi percakapan. mereka berbicara melalui tatapan.
tak ada suara tak ada percakapan tapi kota ini damai, tak pernah ada penipuan, perampokan, kekerasan ataupun hal-hal yang menyakitkan. motor mobil lalu lalang juga tidak bersuara, suara mesin-mesin itu seperti suara hembusan angin.
anak-anak kecil bermain bola dilapangan juga tidak ada percakapan, tertawa, marah-marah hanya terdengar suara bola yang ditendang ataupun kaca pecah akibat bola. anak-anak akan bermain sampai petang dengan matahari yang mulai terlihat setengah. suara burung yang pulang pertanda permainan harus diselesaikan.
sampai suatu ketika kota ini kedatangan pencerita. ya, kota ini dulunya tidak pernah ada pencerita sampai datang seorang pencerita gila, tapi dilayani seperti raja. kota ini selalu didatangi banyak pencerita untuk bercerita kepada penduduk kota. penduduk kota sangat senang jika ada orang yang datang untuk bercerita, mereka akan dengan seksama mendengarkan apa saja yang orang luar kata. penduduk kota selalu menyimpan semua kenangan kegembiraan dengan membuat pesta, pasar bazar, atraksi untuk menyambut pencerita untuk bercerita. kota ini selalu menerima orang-orang luar dengen berlapang dada, dilayani sebagai raja, di sediakan makanan yang paling lezat, minuman yang paling nikmat.
sampai datang Otong si pencerita idaman masyarakat kota, terkenal. dia bercerita dengan sangat baik, halus, sopan dan menjadi buah bibir masyarakat kota. setiap Otong bercerita, mata para penduduk berbinar-binar, menyimak dan yakin apa yang Otong bicarakan. mereka selalu ya ya ya setelah setiap kalimat yang keluar dari bibir si Otong. bagi mereka Otong adalah pencerita ajaib yang datang disaat telinga mereka tidak pernah ada yang membisiki cerita. Bahkan para penduduk tidak pernah membantah apa yang Otong bicarakan.
"aku akan memajukan kota kalian lebih dari ini, membangun jalan-jalan, menambal jalan, membuat taman, menggratiskan pengobatan, bla bla bla bla" kakek menirukan sedikit omongan dari pencerita.
adanya pencerita membuat penduduk mulai melakukan komunikasi, ngobrol sana sini, tertawa kesana kemari.
kota mulai ramai kembali. orang-orang sibuk bercerita, kota-kota yang dulu diam. kini suara terdengar dimana-mana, obrolan kanan kiri memenuhi sudut kota tua. ada teriakan disudut kota, ada tangisan di kursi taman, ada penculikan di rumah ujung jalan. kini semua mendadak ramai.
anak-anak bermain dengan menendang kaki, membully dengan senang hati, malam hari pergi ke tongkrongan melihat layar kecil yang menyala. diam, tiba2 marah dan sesekali membanting layar kecil lalu pergi pulang. besoknya ngadu ke orang tua kalau layar kecilnya hilang dirampas petugas sekolah.
hari ini otong tidak bercerita, Otong sibuk bekerja dikantor, ber ac, dengan kemeja berdasi jam tangan mewah, celana sutra dan sepatu berkilat yang selalu tertempel pada tubuh . masyarakat yang menanti dilapangan berteduh awan yang selalu lalang tampak semakin menghitam. masyarakat yang tadi mulai ngobrol sana sini lambat laun mulai sunyi, mata mereka tertuju pada tempat yang disediakan untuk kepala daerah mereka,Otong. anak-anak kecil yang bermain bola dilapangan mulai ikut-ikutan memandang didepan ingin rasanya mereka menendang bola itu ke mulut Otong yang sudah berjanji omongan dan datang tapi tak pernah kelihatan. masyarakat dan anak-anak kecil lelah menunggu, pencerita yang ingin mereka dengar tak kunjung datang hingga matahari tenggelam dengan menyisakan warna jingga yang sebentar lagi akan termakan kegelapan. mereka pergi tertunduk kecewa!
tak ada suara tak ada percakapan tapi kota ini damai, tak pernah ada penipuan, perampokan, kekerasan ataupun hal-hal yang menyakitkan. motor mobil lalu lalang juga tidak bersuara, suara mesin-mesin itu seperti suara hembusan angin.
anak-anak kecil bermain bola dilapangan juga tidak ada percakapan, tertawa, marah-marah hanya terdengar suara bola yang ditendang ataupun kaca pecah akibat bola. anak-anak akan bermain sampai petang dengan matahari yang mulai terlihat setengah. suara burung yang pulang pertanda permainan harus diselesaikan.
sampai suatu ketika kota ini kedatangan pencerita. ya, kota ini dulunya tidak pernah ada pencerita sampai datang seorang pencerita gila, tapi dilayani seperti raja. kota ini selalu didatangi banyak pencerita untuk bercerita kepada penduduk kota. penduduk kota sangat senang jika ada orang yang datang untuk bercerita, mereka akan dengan seksama mendengarkan apa saja yang orang luar kata. penduduk kota selalu menyimpan semua kenangan kegembiraan dengan membuat pesta, pasar bazar, atraksi untuk menyambut pencerita untuk bercerita. kota ini selalu menerima orang-orang luar dengen berlapang dada, dilayani sebagai raja, di sediakan makanan yang paling lezat, minuman yang paling nikmat.
sampai datang Otong si pencerita idaman masyarakat kota, terkenal. dia bercerita dengan sangat baik, halus, sopan dan menjadi buah bibir masyarakat kota. setiap Otong bercerita, mata para penduduk berbinar-binar, menyimak dan yakin apa yang Otong bicarakan. mereka selalu ya ya ya setelah setiap kalimat yang keluar dari bibir si Otong. bagi mereka Otong adalah pencerita ajaib yang datang disaat telinga mereka tidak pernah ada yang membisiki cerita. Bahkan para penduduk tidak pernah membantah apa yang Otong bicarakan.
"aku akan memajukan kota kalian lebih dari ini, membangun jalan-jalan, menambal jalan, membuat taman, menggratiskan pengobatan, bla bla bla bla" kakek menirukan sedikit omongan dari pencerita.
Otong selalu bercerita tentang kesejahteraan, kebahagiaan, keadilan dibaluti dengan suara lembut orang yang merayu-rayu. merdu seperti kicauan burung mahal yang sekali ngoceh selalu dinantikan pendengar.
suatu saat datanglah pemilihan pemimpin daerah. karna cuma Otong yang pandai bercerita akhirnya Otong terpilih menjadi pemimpin di kota. para penduduk yang lain cuma menjadi tangga untuk pencerita agar menjadi penguasa.
"Aku yakin jika Otong menjadi pemimpin kota, dia pasti akan senang bercerita dan kau yakin cerita yang disampaikannya akan jadi kenyataan"kota mulai ramai kembali. orang-orang sibuk bercerita, kota-kota yang dulu diam. kini suara terdengar dimana-mana, obrolan kanan kiri memenuhi sudut kota tua. ada teriakan disudut kota, ada tangisan di kursi taman, ada penculikan di rumah ujung jalan. kini semua mendadak ramai.
anak-anak bermain dengan menendang kaki, membully dengan senang hati, malam hari pergi ke tongkrongan melihat layar kecil yang menyala. diam, tiba2 marah dan sesekali membanting layar kecil lalu pergi pulang. besoknya ngadu ke orang tua kalau layar kecilnya hilang dirampas petugas sekolah.
hari ini otong tidak bercerita, Otong sibuk bekerja dikantor, ber ac, dengan kemeja berdasi jam tangan mewah, celana sutra dan sepatu berkilat yang selalu tertempel pada tubuh . masyarakat yang menanti dilapangan berteduh awan yang selalu lalang tampak semakin menghitam. masyarakat yang tadi mulai ngobrol sana sini lambat laun mulai sunyi, mata mereka tertuju pada tempat yang disediakan untuk kepala daerah mereka,Otong. anak-anak kecil yang bermain bola dilapangan mulai ikut-ikutan memandang didepan ingin rasanya mereka menendang bola itu ke mulut Otong yang sudah berjanji omongan dan datang tapi tak pernah kelihatan. masyarakat dan anak-anak kecil lelah menunggu, pencerita yang ingin mereka dengar tak kunjung datang hingga matahari tenggelam dengan menyisakan warna jingga yang sebentar lagi akan termakan kegelapan. mereka pergi tertunduk kecewa!
Hari-hari berlalu, Otong si kepala daerah sudah menjabat beberapa lama. Cerita-cerita yang dibawa dan menjadi senjata untuk masyarakat tak pernah dilanjutkan, cerita dari Otong menggantung di pucuk awan tak pernah sampai tujuan.
kini Otong tampak sangat sibuk, dia jarang sekali bisa melayani warga kota untuk sekedar bercerita seperti dulu kala, kini dia lebih banyak dikantor dengan ketas-kertas bermata uang yang harus ditanda tangani oleh penguasa. Otong si pencerita kini jarang sekali terlihat di kota, katanya dia sibuk untuk mengurusi ini itu di kota lainnya. si pencerita jarang sekali berkomunikasi, dia hilang seperti jaringan komunikasi di plosok negeri.
kakek itu berpesan pada pemuda tersesat itu "hati-hati sama pencerita, mereka bisa membutakan yang didada"
pemuda itu pergi dari lorong gang hitam sempit yang didiami kakek tua. dia berjalan dengan menyusuri toko-toko yang tutup. tenggorokan pemuda itu kering, minum air ludah pun tak bisa menghilangkan dahaga bahaya. untuk meminta minum pun tak bisa, sebab orang-orang tak ada yang ditemui. Otong berjalan sampai di tengah kota, tapi alangkah terkejutnya Otong melihat penduduk berkumpul dengan membawa bensin. mereka membakar rumah Otong dengan bensin yang mereka bawa.
dari atas rumah bertingkat terdengar "tolong,tolong, tolong"
penduduk menikmati kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Otong seperti mendengarkan Otong bercerita seperti sebelumnya "akhirnya Otong bercerita lagi, ceritanya bagus ada sedih-sedihnya. ini cerita terakhirnya mari kita nikmati dengan seksama"
kata salah seorang penduduk kota yang menyaksikan dengan mata berbinar air mata.
dari atas rumah bertingkat terdengar "tolong,tolong, tolong"
penduduk menikmati kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Otong seperti mendengarkan Otong bercerita seperti sebelumnya "akhirnya Otong bercerita lagi, ceritanya bagus ada sedih-sedihnya. ini cerita terakhirnya mari kita nikmati dengan seksama"
kata salah seorang penduduk kota yang menyaksikan dengan mata berbinar air mata.
Noob
BalasHapus