Menyeramkan

Otong ingin mengunjungi kota.

otong pemuda polos dari desa terpencil dibawah kaki gunung. udara dingin berhembus dari atas gunung menuju lembah-lembah, jalan-jalan, dan kaki-kaki para penduduk yang mulai pergi kekebun. matahari setiap saat menyinari desa, matahari selalu dekat dengan para warga, semakin lama semakin mendekat panasnya. seperti dekatnya Otong dengan lingkungan yang akan ditinggalkannya.

hari ini waktunya Otong untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. berbarengan dengan kepergian matahari yang mulai menghitam, Otong pergi bersama kegelapannya. Otong berpamitan dengan warga desa yang apa adanya, jujur, ramah senyum. Otong berangkat dengan membalikkan badan membelakangi desanya, mata otong berkaca-kaca melihat kaki-kakinya yang mulai melangkah menjauihi desa.

kata salah satu warga desa "orang-orang kota semuanya mempunyai peri untuk dijadikn istri, teman, sahabat, ataupun pembantu bahkan sesama peri ada juga yang saling bermusuhan"
apa yang warga desa bilang semakin membuat Otong penasaran. "bagaimana bentuk peri, apa mereka mempunyai sayap, apakah bisa memberikan sesuatu berupa keajaiban" pertanyaan pertanyaan itu muncul dikepala Otong sambil senyum senyum melangkah menjauhi desa.

sudah 24 jam Otong menyusuri jalanan melewati jalan terjal berbelok belok dengan suasana hutan yang membawa aroma kemistikan. pohon-pohon bergerak, berbunyi, mendekat akibat serpahan angin yang mulai kencang. tanah-tanah yang diberi jebakan berupa lubang ataupun batu yang membuat tidak nyaman saat berjalan. suara dedaunan yang ditampar angin berbisik ke arah Otong "kamu segera sampai". di ujungf arah mata angin distulah kota tergeletak. Otong pun sudah dekat.

sesampai di kota Otong berkenalan dengan peri. untuk berkenalan Otong harus memberikan sejumlah uang kepada tuan peri sebelum dia, Otong juga harus memberikan pajak kepada peri, serta makanan agar peri bisa di ajak berkomunikasi dan berkomporomi. peri yang ditemui ini tidak persis seperti yang digambarkan pikiran Otong. tidak ada sayap, bentuknya hanya seperti papan kayu, tidak mungkin juga bahwa yang dinamakan peri ini bisa mengabulkan permintaan.

semakin hari Otong semakin memahami si peri, seperti memahami isi hati Otong yang selalu dihimpit pensaran pada hal yang baru. seperti penasarannya si Otong pada warga kota.
Otong dan peri itu semakin akrab. bisa dibilang seperti suami istri.

setiap hari Otong selalu bermainan dengan si peri. menerangi mata, jari-jari Otong semakin hari semakin lincah menggelitiki si peri. bila malam tiba si peri selalu tidur di pelukan Otong. pada waktu mandi datang, Otong juga selalu membawa peri sembari melakukan aktivitas menggosok badan dengan serabut kelapa yang dibawa dari desa. 

suatu saat otong merasakan kebosonan. Otong ingin mempunyai  teman manusia. selama ini Otong hanya berteman dengan perinya. wajar kalau si Otong merasa bosan. 

Otong meminta peri untuk mencarikan teman "peri aku ingin mempunyai teman wanita" . tanpa banyak pikir panjang  peri melihatkan sebuah foto wanita cantik, baiik, ramah , dan perkataan yang baik. "ok peri. aku setuju. ayok kita segera bertemu"  ajak otong bersemangat.
"Otong kau harus mengajaknya terlebih dahulu, carilah tempat untuk mengajak ketemuan" kata si peri.
wanita itu mengiyakan ajakan Otong dengan tempat yang dipilih oleh wanita.
Otong menyiapkan tempat dimana mereka akan bertemu, memboking tempat. merapikan rambut dengan jilatan air ludah. memakai parfum dengan menaburi perasan bunga pada tubuhnya. memakai baju sederhana seadanya. Otong siap untuk bertemu wanita, untuk menjadi teman, ya teman di negri orang.

mereka bertemu ditempat yang dijanjikan dengan makanan dan minuman yang sudah ada didepan meja. Otong menunggu dengan harapan yang tinggi seperti balon udara yang meninggi di angkasa.

gelas terpecah, Otong merasa terpecah belah, hancur lebur terserak dilantai. perempuan itu menghinanya akibat penampilan yang mungkin ndeso.
" aku pulang duluan, tampangmu berantakan." kata si perempuan.
Otong terdiam mendengar suara perempuan itu yang mulai pergi sambil mengoceh-ngoceh sendiri. seperti balon udara yang terpecah disamping telinganya, kejadian itu membuatnya kaget setengah mati. Otong termenung sembari menata diri merapikan diri yang berserakan di lantai dan sebagian yang melayang akibat letusan balon udara.
Otong tak habis pikir. dia ingin berteman selamanya bukan cuma 1 malam kenapa penampilan menjadi dasar untuk menyimpulkan?

peri berusaha menghibur dengan bercahaya terang membisiki Otong untuk terus mencari.
"yang lalu biarlah pergi. tak usah diingat, ingatan itu sakit menyayat" bisik si peri.
berhari-hari Otong tak bisa memahami apa yang telah terjadi. waktu yang terus berputar tidak membuat pikiran Otong meninggalkan hal yang terjadi dengan wanit itu.
Otong memainkan si peri lagi sampai dia bertemu pada suatu sosok.
sekian hari terperangkap memikirkan wanita mencari Otong telah menemukan manusia yang mau dijadikan penutan, buka tentang perempuan lagi. Otong menemukan laki-laki yang menurutnya bisa memperbaiki hati dan dirinya yang semalam terpecah belah. laki-laki itu berpakaian rapi, bersih, sorban dikepala, kitrab suci ditangan.
alangkah beruntungnya si Otong laki-laki itu mengadakan acara. Otong tidak perlu mengajak bertemu tinggal mendatangi tempat acara tesebut yang bisa diikiti oleh masyarakat umum.

Otong melihat laki-laki itu. mata Otong memerah dan berkaca kaca, alangkah tidak percaya lelaki itu berbicara tidak rapi, mengajak saling benci, mengajak permusuhan. sorban dikepala digunakan untuk berperang, kitab suci hanya untuk pajangan. tidak ada keramahan, tidak ada kata perdamaian. Otong pun pingsan, tidak sadarkan.
kata-kata lelaki itu seperti sebuah benda keras yang menghantam dikepala Otong, menjatuhkan Otong kebawah, tergeletak dengan mata memandang ke atas seakan langit runtuh, puing-puing berserakan jatuh menuju tempatnya lalu tenggelam

angin angin datang membangunkan pelan, Otong tersadar dengan semua hal yang terjadi diperkotaan. uang untuk biaya ke kampung halaman sudah ludes tak ditangan. si peri yang punya harga dijual seadanya untuk pulang dan bekal. perempuan yang ditemui lewat perantara peri tidak tertera seperti di gambar.  kata-kata yang baik, murah senyum, baik hati tidak ditemui saat berhadapan kepala dan kaki. laki-laki yang berpakaian rapi, bersih, sorban dikepala dan kitab suci dtangan sama saja tanpa ada kurang dan lebih.

orang-orang itu menyeramkan

suatu pagi di saat penduduk kota sibuk dengan hura-hura dan pesta. Otong kembali ke kampung halaman bersamaan dengan pagi dan menghilang diantara kabut dengan muka berseri seri.


Praja Yogyakarta
220419

rizki wahyu eko utomo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

(tinggalkan) kencang