kematian di pusat keramaian, Perbelanjaan







Kematian dipusat keramaian, perbelanjaan

Rizki wahyu eko utomo


Hari ini keberlangsungan hidup masih terus berlanjut. Seperti angin yang selalu melalu Lalang, suara motor mobil yang berkeliaran. Di pojokan dia menatap dengan mata melotot, badan kurus dengan tangan memegang putung rokok yang didapat dijalan dari buangan orang-orang yang tidak memperhatikan lingkungan. Dia seorang lelaki berumur 40 tahunan, dengan 2 orang anak perempuan ditempat yang kumuh dan terbelakang. Tempat tinggal mereka dipagari dengan Gedung-gedung tinggi dan pusat perbelanjaan yang semakin banyak. Gedung-gedung itu seolah benteng pertahanan yang nyatanya hanya membuat tempat tinggal mereka semakin lama semakin tenggelam dalam kemiskinan.

“Pak aku lapar” kata anaknya sambil menjail pundak sibapak,
“sabar, bapak akan membeli makan yang enak untuk kalian hari ini” bilang si bapak dengan nada yang meyakinkan kepada kedua anaknya.
“Ye, bapak akan membawa makanan yang enak untu kita” bahagia si anak dengan memeluk    bapaknya
Bagi bapak kepercayaan dan senyuman anak-anaknya ibarat sebagai pengganjal lapar yang juga dia rasakan. Dia mulai berpamitan untuk mencari segumpal nasi yang ia janjikan kepada anak-anaknya dengan berharap untuk mendapat nasi dengan segera.
Bapak itu pergi dengan tenaga terpaksa. Dengan bekal hanya korek dan sepeda butut. Sesekali melihat kebawah untuk melihat seputung rokok. Ya, hanya seputung rokok itu yang mau berbicara dengan si bapak. Alangkah sialnya hari gerimis mulai membasahi, putung-putung rokok basah semua. Bapak itu mulai menggigiti kuku-kuku yang bisa membuat kenyang tanpa mengeluarkan uang.
Bapak itu masih berjalan, melewati aspal-aspal panjang tak bolong diatasnya terpampang mula-muka wakil rakyat rakyat yang menjual janji untuk dirinya sendiri tapi laku dibeli (heran).  Disampingnya berlalu Lalang mobil dan motor yang tidak bisa bergerak, saling memaki klason, saling menggeberkan knalpot seolah dunia ini milik mereka tanpa mempedulkan orang dibawahnya.
Hampir 1 jam berjalan menuntun sepeda bapak itu mendapati sebuah warung yang berjualan nasi. Duduklah dia diseberang jalan dengan memperhatikan warung nasi yang ramai oleh orang-orang yang berpakaian rapi dan berdasi. Bapak itu melamun lupa akan waktu, lupa anaknya telah menunggu sampai buyar lamunannya dari orang yang tak dia kenal, memanggilnya dan akan memberikan nasi sisa padanya. Bergegaslah dia menuju seberang dengan gembira. Setelah nasi sudah berada ditangan melaju dia keseberang dengan gembira yang belum usai dan lupa, BRUAKKKKKK!!! Dia lupa banyak kendaraan yang melalu Lalang. Dia tertabrak, yang menabrak tancap gass dengan lagu keras didalam.
Dia tertabrak, nasi yang didapatnya berhamburan. Bapak itu memperhatikan nasi, terbayang kedua anaknya yang sedang menantikan dia. Dia memaksa berdiri diiringi dengan air mata yang mulai keluar untuk mengumpulkan sisa nasi yang berhamburan. Dai terjatuh, kakinya tidak kuat untuk menopang bapak tua yang ditabrak mobil mewah seperti dia. 30 detik sebelum dia menutup mata, dia berharap “andaikan ada yang mau mengantarka nasi itu kepada kedua anaknya, andaikan mobil yang menabrak dia mau berhenti lalu mengantar nasi itu. pasti dia tidak menyesal jika memang hari ini dia harus pergi selamanya”

Bapak itu kehilangan nyawanya dipusat perbelanjaan oleh mobil yang pergi tanpa permisi. Nasi yang dijanjikan tidak bisa ditepati. Senyuman yang bisa mengganjal lapar kini memuai dijalanan.

3 komentar:

(tinggalkan) kencang