Dedaunan
rumput liar melambai, "aku akan pergi tolong jangan ada tangisan apa lagi kebahagiaan” pesan rumput
liar kepada tanah saat akan dicabut dengan dan oleh tangan pencabut kehidupan.
Malam hari, setelah
tiga hari kematian. Pak sastro dan mas Wahyu mendiskusikan kelanjutan sekolah Gani dan Nana.
“pak gimana
kelanjutan sekolah Gani dan Nana” tanya mas Wahyu yang masih memiliki rasa
peduli.
“ya, saya
pengennya mereka bisa lanjut mas, tapi apa daya kami mas. Gawe ngisi beras ae
angel” kata pak Sastro dengan nada jawa.
“pak saya dari
kemarin punya ide untuk memasukkan Gani dan Nana di panti asuhan JayaRaya yang
berada diluar kota. Disana terdapat sekolah sampai Sma. Tapi ini juga
tergantung bapak” kata mas Wahyu dengan berharap
“mas tapi
dengar2 panti asuhan itu.......”
“Ah itu Cuma kabar
burung pak” kata mas Wahyu memotong omongan bapak Sastro.
Jam sudah
menunjukkan jam 12.30 AM. Pak Sastro dan ma Wahyu terlihat sering sekali
menaroh tangan pada mulut masing-masing. Menandakan ngantuk sudah menular dan
menyerang bagaikan nyamuk yang menyerang. Disaksikan oleh bulan dan bintang, di ketuk palu oleh waktu
yang berdentang tengah malam. Akhirnya mas wahyu dan Pak Sastro sepakat untuk
memasukkan Gani dan Nana di panti asuhan Jayaraya di pinggiran kota.
“Gani dan Nana
memasuki sekolah dihari pertama dengan seragam seperti langit cerah. Merka pergi
berjalan kaki Bersama rizki. Mereka akan mempunyai teman baru guru baru,
pelajaran baru. Dalam perjalanan mereka bertemu dengan induk ayam dan anak-anaknya
yang sedang latihan militer berjalan dengan tegap, berbaris rapat, waspada pada setiap yang mengancam.
Gani dengan semangat membara menuju sekolah tidak sadar bahwa kakinya hampir
menginjak anak ayam,. Seketika kapten yang menginduki anak ayam mengejar Gani berlari menjerit”
hufffft( dengan suara nafas yang dihisap dalam-dalam). Gani
terbangun dari mimpinya, dia termenung dan beberapa saat membangunkan Nana yang
memeluk kaki Gani yang keras seperti guling yang nyaman.
“Na bangun, udah pagi” Gani membangunkan Nana dengan membelai
rambut dan mencubiti pipi Nana.
Dari luar terdengar suara rizki yang memanggil, sambil membawa daun
ubi.
“Gan, Nan”
“kenapa ki, pagi-pagi teriak-teriak kaya ayam” kata Gani sambil
ketawa dengan jemari yang mencari tambang emas disekitaran mata.
“kalian disuruh kerumah Pak satro untuk sarapan Bersama” jawab si
rizki sambil pergi melambaikan tangan
Gani dan Nana bersiap-siap dan dengan berpakaian sederhana, mereka menuju rumah Pak Sastro dengan berjalan kaki bersama sinar pagi yang
membias mereka, mengeluarkan keringa-keringat kecil didahi seperti melihat percikan berlian yang menetes. Gani dan
Nana sampai dirumah pask Sastro disana ada mas Wahyu dan tak ketinggalan si
Rizki yang melambaikan tangan ke mereka. Gani dan Nana duduk disebelah Mas
Wahyu, tepat diseberang mereka ada pak Sastro dan Rizki. Di tengah-tengah mereka
sudah tersaji sarapan berupa Nasi, Tahu, tempe dan daun pucuk ubi dengan
sambal. Hidangan sederhana yang terasa mewah.
“monggo diambil sendiiri” katak Pak sastro sambil mengambil piring
“ambil yang banyak nggak usah malu-malu”
Mereka pun mulai mengambil dengan tertib. Dimulai dari nasi, tempe
dan daun ubi. Dinikmatinya setiap suapan dibuka dengan basmallah dan diakhiri
dengan alhamdulillah. Selesai makan Gani dan Nana memebereskan dan membawa
kedapur untuk dicuci.
Gani dan Nana duduk dengan rapi. Pak Satro membuka percakapan
“Gan, Nan sebagai kerabat bapak ingin kalian itu sakolah dan kalo bisa bersekolah disini. Tapi apa yang bapak inginkan nggak bisa bapak lakukan.
Kemarin malam bapak dan mas Wahyu telah menemukan solusi Bagaimana kalian
berdua dapat bersekolah kembali. Untuk bisa masuk sekolah lagi kalian akan
dimasukkan di panti asuhan JayaRaya, disana terdapat Pendidikan nya juga.”
Si Rizki mendengar hal tersebut sontak terkejut. Gani dan Nana
berbahagia disatu sisi mereka harus meninggalkan kampung halaman. Mas Wahyu
hanya mengangguk bahwa apa yang dia danpak sastro tawarkan adalah pilihan yang
terbaik agar sig ani danNana bisa bersekolah.
Gani dan Nana berbisik sebentar…
“pak Satro saya dan Nana berterima kasih atas kesempatan yang
diberikan oelh pak Sastro dan mas Wahyu. Jika memang disitu saya dan Nana bisa
bersekolah maka kami akan menerima tawaran yang diberikan”
Ya, kini mereka sudah mendapat harapan yang dulu terbang terlalu
tinggi. Apa yang mereka pikirkan setiap detiknya sudah hilang. yang hilang akan digantikan dengan yang baru, begitu juga pikiran Gani dan Nana. kini Gani dan
Nana memikirkan hal baru. kenyataan bahwa meraka akan meninggalkan kampung halaman, tidak
bisa berdoa dikedua kuburan orang tuanya, berpisah dari teman yang menghiburnya pada setiap saat datang hal menyedihkan membuat pikiran mereka berputar-putar tak sesuai porosnya. beraduk lalu bertabrakan pada otak mereka yang belum bisa dipikirkan oleh anak-anak seumuran mereka.
Nana melihat Rizki, hari kemarin mereka bermain bersama. Nana ingin
kembali diajak bermain ditarik tangannya lalu berlari bebas menembus benteng kesedihan.
Gani, Nana dan Rizki sebentar lagi akan dipisahkan oleh waktu, tempat
mereka akan berbeda, orang-orang yang ditemui akan berbeda.
Segelap-gelapnya malam hari, esok mentari pagi akan kembali memberi kehangatan dari dinginnya sepi. Ya pasti akan kembali, itulah yang mereka yakini pada masing-masing hati sanubari bocah kecil dengan dunia yang besar dan bermacam-macam kejadian.
Esok disuatu waktu yang tak tau, mereka akan kembali, bertemu pak Sastro, Mas Wahyu dan Rizki serta menaburi bunga dan berdoa di kedua kuburan orang tua, lalu berharap kedua orang tua menunggu kedatangan mereka didepan pintu yang besar, bersama-sama bergandengan tangan ditaburi dengan senyum kepantasan menuju sisiNya.
Segelap-gelapnya malam hari, esok mentari pagi akan kembali memberi kehangatan dari dinginnya sepi. Ya pasti akan kembali, itulah yang mereka yakini pada masing-masing hati sanubari bocah kecil dengan dunia yang besar dan bermacam-macam kejadian.
Esok disuatu waktu yang tak tau, mereka akan kembali, bertemu pak Sastro, Mas Wahyu dan Rizki serta menaburi bunga dan berdoa di kedua kuburan orang tua, lalu berharap kedua orang tua menunggu kedatangan mereka didepan pintu yang besar, bersama-sama bergandengan tangan ditaburi dengan senyum kepantasan menuju sisiNya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar